​Sederhana Namun Bernyawa

Tak besar tak juga kecil, setidaknya lari di pagi hari mengitari pulau cukup untuk mencari keringat, itulah pulau bahan, sederhana memang, dibandingkan dengan pulau yang disekelilingnya yaitu pulau sugie dan pulau combol, luas pulau bahan 1/8 dari pulau tersebut. Sederhana namun istimewa itulah pulau bahan, tak tertinggal tapi tak juga terdepan. Delapan bulan menjadi bagian dari masyarakat pulau membuat kami semakin memahami bahwa bukan kemewahan yang membuat seseorang bahagia tapi rasa syukurlah yang menjadikan kita bahagia. Mereka tetap tersenyum walaupun listrik (menggunakan mesin pribadi) yang hanya hidup dari jam 18.00 s.d 23.00, itupun terkadang bisa mati sampai dengan satu minggu lebih kalau mesin tiba-tiba rusak. mereka tetap bisa tertawa lepas walaupun sinyal terkadang tiba-tiba menghilang. 

Masyarakat yang ramah selaras dengan pendidikan yang tenang, tak spesial tapi tidak juga kekurangan. Jangan di bandingkan dengan pendidikan di kota-kota besar jelas ada jarak yang sangat juah berbeda. Di pulau kecil di perbatasan Karimun dan Batam yang berdekatan dengan Singapura pendidikan di sini berlangsung sederhana namun tetap masih punya nyawa. Untuk ukuran pulau kecil, kesadaran akan pentingnya pendidikan masih terasa, hanya ada beberapa remaja yang putus sekolah bahkan sebagain guru yang bergelar sarjana merupakan asli putra/putri pulau bahan. 

Mengusik masalah pendidikan di pulau ternyata ada banyak sisi yang harus segera di perbaiki terutama budaya pendidikan. Terbiasa santai jadi membuat mereka sedikit tertinggal di belakang. Menajdi PR kami selaku tenaga pendidik merubah kebiasaan mereka untuk menjadi sedikit lebih agresif agar menjauh dari ketertinggalan. Tapi jangan tanyakan untuk masalah kreatifitas mereka tidak kalah kerennya dengan pelajar di kota. Terbiasa dengan fasilitas yang sederhana membuat anak-anak di pulau memiliki kreatifitas yang terbiasa memanfaatkan alam di sekitar untuk menutupi fasilitas yang terbatas.

Kekayaan hasil laut yang melimpah selaras dengan minat pelajar akan olahraga. Voli menjadi olahraga favorit disini. Mereka lebih menikmati ketika jam pelajaran pengembangan diri di bandingkan dengan akademik. Menjadi tugas kami selaku guru membuat mereka menjadi antusias di bidang akademik sesemangat mereka ketika bermain voli. Menyelaraskan keduanya menjadi tantangan buat kami pengajar muda selama mengabdi. Apapun kekurangan yang di miliki anak didik kami tidak menghalangi kami untuk tetap bangga kepada mereka karena kegiatan agama masih menjadi primadona di hati mereka. Siapapun kamu dan apapun jabatanmu urusan dengan Tuhanmu tetap jadi yang nomor satu.

Advertisements